Lanjut ke konten

Manisnya Iman

Agustus 17, 2009

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ?anhu, dia berkata, ”
Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam bersabda, artinya,

“Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan
merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai
daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya
kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api.”
(Muttafaq ?alaih)

Rawi Hadits

Dia seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Hamzah Anas bin Malik bin an-Nadlar
an-Najjari al-Khazraji radhiyallahu ?anhu. Seorang imam, ahli baca
al-Qur’an, mufti, muhaddits, riwayatul Islam dan sekaligus pelayan
Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam. Al-Imam adz-Dzahabi mengatakan,
“Dia mendampingi Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam dengan begitu
sempurna, dan senantiasa menyertai Rasul semenjak beliau hijrah ke Madinah.
Berkali-kali dia mengikuti perang beserta Nabi shallallahu ?alaihi wasallam
dan merupakan salah seorang yang ikut berbai’at di bawah pohon (bai?atul
?aqabah).”

Anas radhiyallahu ?anhu berkata, “Aku melayani Rasulullah shallallahu
?alaihi wasallam selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah memukulku, tidak
pernah mencelaku dan tidak pernah bermuka masam di hadapanku.” Rasulullah
mendoakan Anas agar dikaruniai harta dan anak yang banyak dan doa beliau
dikabulkan Allah. Disebutkan bahwa putra-putri Anas pada masa menjelang
wafat mencapai lebih dari seratus orang. Beliau meninggal pada tahun 91 atau
92 hijriyah. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ?alaihi wasallam yang
paling akhir meninggal dunia, dan ketika beliau wafat, maka bersedihlah
semua orang sehingga dikatakan, “Separuh ilmu telah pergi”.

Makna Hadits

-Tiga hal, maksudnya adalah tiga ciri atau sifat.

-Jika tiga hal itu ada pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman.
Maksud ada pada dirinya yaitu secara utuh keseluruhannya. Maka artinya
adalah ada tiga sifat yang jika tiga sifat itu ada pada seseorang maka orang
tersebut akan merasakan manisnya iman. Dan yang dimaksud dengan manisnya
iman adalah rasa nikmat ketika melakukan ketaatan kepada Allah, ketenangan
hati dan lapangnya dada.

Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Syaikh Abu Muhammad bin Abu Hamzah
berkata, “Pengungkapan dengan lafal “manis” karena Allah subhanahu wata?ala
mengumpamakan iman sebagaimana pohon, seperti di dalam firman-Nya, surat
Ibrahim 24, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik.”

Kalimat thayyibah (baik) adalah kalimatul ikhlash, kalimat tauhid, sedangkan
pohon merupakan pokok dari keimanan, cabang-cabangnya adalah menjalankan
perintah dan menjauhi larangan, daun-daunnya adalah segala amal kebaikan
yang harus diperhatikan seorang mukmin, dan buahnya adalah segala macam
bentuk ketaatan. Manisnya buah akan didapat ketika buah sudah matang, dan
puncak dari rasa manis itu adalah bila buah telah masak total, maka ketika
itulah akan terasa manisnya buah tersebut.

-Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, artinya
mencintai Allah subhanahu wata?ala dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada
orang lain seperti orang tua, anak, diri sendiri dan semua orang.

-Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Maksudnya
adalah hendaknya hubungan antara seorang muslim dengan saudaranya -muslim
yang lain- dilandasi dengan iman kepada Allah subhanahu wata?ala dan amal
shalih. Bertambahnya kecintaan bukan karena mendapatkan keuntungan materi
dan berkurangnya cinta bukan karena tiadanya manfaat dunia yang diperoleh,
namun ukurannya adalah iman dan amal shalih.

-Benci jika kembali kepada kekufuran, sebagaimana bencinya jika dilemparkan
ke dalam api. Di dalam riwayat lain disebutkan, “Bahkan dilemparkan ke dalam
api lebih dia sukai daripada kembali kepada kekufuran, setelah Allah
menyelamatkan dia dari kekufuran itu.” Ini maknanya lebih mendalam daripada
riwayat di atas, karena riwayat di atas menunjukkan kesamaan tingkat di
dalam membenci kekufuran dan membenci jika dibakar di dalam api.

Beberapa Faidah dan Hukum

1. Iman kepada Allah subhanahu wata?ala memiliki rasa manis yang tidak
mungkin dinikmati, kecuali oleh orang-orang yang beriman dengan sebenarnya,
yang disifati dengan ciri-ciri yang mengindikasikan sebagai ahlinya. Oleh
karena itu, tidak semua orang yang menyatakan dirinya mukmin otomatis dapat
merasakan manisnya iman itu.

2. Cinta Allah, kemudian disusul cinta Rasul-Nya shallallahu ?alaihi
wasallam merupakan ciri terpenting yang harus dimiliki oleh siapa saja yang
ingin merasakan lezatnya iman. Cinta Allah dan cinta rasul-Nya tidak boleh
diungguli oleh cinta kepada siapa pun selain keduanya. Bahkan cinta Allah
dan Rasul-Nya merupakan parameter dan tolok ukur bagi kecintaan terhadap
diri sendiri, orang tua, anak, dan seluruh manusia.

Suatu ketika Umarradhiyallahu ?anhuberkata kepada Nabi shallallahu ?alaihi
wasallam, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada
segala sesuatu apa pun, kecuali diriku.” Maka Nabi shallallahu ?alaihi
wasallam bersabda, “Tidak demikian, demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.” Maka
Umar menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai
dari pada diriku sendiri.” Maka Nabi mejawab, “Sekarang hai Umar,” (telah
sempurna imanmu). Anas radhiyallahu ?anhu juga meriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu ?alaihi wasallam, beliau bersabda, artinya,
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dia cintai
dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” Dan konsekuensi dari
cinta ini adalah memenuhi apa yang diperintahkan Allah dan Rasul serta
menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rasul dengan penuh rasa rela dan
ketundukan yang utuh, sebagaimana firman Allah subhanahu wata?ala, artinya,
?Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.? (QS. 3:31)

3. Di antara sebab-sebab yang dapat mengantarkan seseorang memperoleh
kecintaan Allah -setelah melakukan kewajiban- adalah sebagaimana yang
disampaikan al-Imam Ibnul Qayyim, yaitu:

a.. Membaca al-Qur’an dengan merenungkan dan memahami maknanya.

b.. Mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata?ala dengan melakukan amalan
sunnah.

c.. Terus menerus berdzikir kepada Allah dalam segala kondisi, baik dengan
hati, lisan atau perbuatan.

d.. Mendahulukan apa yang dicintai Allah dibanding yang dicintai diri
sendiri.

e.. Berteman dengan orang-orang yang jujur mencintai Allah dan sesama
muslim.

f.. Menjauhi segala perkara yang dapat menghalangi antara hati dengan Allah.

d.. Mencintai Nabi shallallahu ?alaihi wasallam adalah merupakan tuntutan
dari kecintaan terhadap Allah subhanahu wata?ala. Ia berada di atas
kecintaan terhadap seluruh manusia.
Di antara ciri-cirinya adalah:

a.. Beriman bahwa beliau shallallahu ?alaihi wasallam adalah utusan Allah,
yang diutus kepada seluruh umat manusia, sebagai pemberi peringatan dan
kabar gembira, sebagai penyeru ke jalan Allah dengan membawa cahaya yang
terang benderang.

b.. Bercita-cita untuk bertemu dengan beliau dan khawatir jika tidak dapat
bertemu beliau.

c.. Menjalankan perintah-perintah beliau dan menjauhi larangan beliau,
karena orang yang mencintai seseorang, maka akan menaatinya. Jangan sampai
tertipu dengan klaim dusta mencintai Rasulullah shallallahu ?alaihi
wasallamnamun tidak menjalankan perintahnya, bahkan menerjang larangannya.

d.. Menolong sunnahnya, mengamalkan, menyebarkan, membela dan
memperjuangkannya.

e.. Banyak bershalawat dan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ?alaihi
wasallam.

f.. Berakhlaq dengan akhlaq beliau dan beradab dengan adab-adab beliau.

g.. Mencintai sahabat-sahabat beliau dan membela mereka.

h.. Mengkaji perjalanan hidup dan sirah beliau serta mengetahui keadaan dan
berita-berita yang menyangkut beliau.

e.. Selayaknya jalinan seorang muslim dengan muslim yang lain dibangun di
atas landasan cinta kepada Allah subhanahu wata?ala. Karena jenis cinta
seperti ini memiliki keutamaan yang amat besar, dan mendatangkan pahala yang
banyak. Imam al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan hadits Nabi shallallahu
?alaihi wasallam tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada
hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satu di antaranya adalah,
“Dua orang yang saling menyintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan
berpisah karena-Nya.”

f.. Saling mencintai karena Allah mempunyai hak-hak yang harus ditunaikan,
di antaranya:

1. Membantu memenuhi kebutuhan saudaranya dan mau melakukan itu,
sebagaimana di dalam hadits, “Sebaik-baik orang adalah yang paling memberi
manfaat kepada orang lain.”

2. Tidak membicarakan aib, meminta maaf ketika melakukan kesalahan,
sebagaimana diri kita juga senang jika aib kita tidak dibicarakan, maka
mereka pun demikian.

3. Tidak membenci, tidak iri dan dengki terhadap nikmat yang diberikan
Allah kepada saudara kita.

4. Mendoakan saudara kita -tanpa sepengetahuannya- baik ketika dia masih
hidup atau setelah meninggal dunia. Karena doa yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang didoakan adalah mustajab, begitu pula bagi yang
berdoa.

5. Bersegera mengucapkan salam jika bertemu, bertanya tentang kabar dan
keadaanya, tidak bersikap sombong dan merasa tinggi.

6. Kekufuran adalah hal yang dibenci Allah. Maka seorang mukmin wajib
membencinya sebagaimana benci jika dilemparkan ke dalam api, bahkan lebih
benci lagi. Orang kafir juga dibenci oleh Allah, maka orang mukmin juga
harus membencinya disebabkan oleh kekufurannya yang akan menggiring masuk
neraka. Atas dasar ini maka bersikap loyal (berwala’) kepada orang kafir
adalah merupakan sebab dari kemurkaan Allah subhanahu wata?ala dan
kemarahan-Nya. Di antara bentuk-bentuk sikap loyal kepada orang kafir adalah
mencintai mereka, menolong mereka dalam rangka memerangi orang mukmin,
bermudahanah (berbasa-basi, tidak mengingkari kesesatan dan kekeliruan
mereka sehingga terkesan membenarkan-red), bersahabat atau mengambil mereka
sebagai teman akrab dan mengangkat mereka menjadi orang kepercayaan serta
orang dekat (bithanah). Padahal Allah subhanahu wata?ala telah berfirman,
artinya,
?Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali
dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian,
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat)
memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah
kembali (mu).? (QS. 3:28).
Wallahu A’lam bisshowab.

From → Mutiara kata

2 Komentar
  1. Assalammualaekum wr wb… salam kenal…

    • abutiar permalink

      Wa’alaikumsalam wr wb

      Salam kenal juga,makasih ya atas kunjunganya….

      Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: